Hijrah

1 Muharram 1432 H sebentar lagi. Hari itu tahun baru Islam, menandakan 1432 tahun yang lalu, Rasulullah salallahu alaihi wasalam berhijrah dari Mekah ke Madinah. Peristiwa inilah yang menjadi dasar perhitungan tahun Hijriah. Dulu, saya berpikir bahwa hijrah ini dilakukan hanya untuk mempertahankan akidah Islam saja. Namun ternyata ada hal-hal lain yang terkandung dalam makna hijrah ini.

Hijrah adalah istilah yang digunakan untuk menamai kegiatan yang dilakukan seseorang atau masyarakat dari sebuah hal yang sifatnya buruk kepada yang baik. Dengan demikian, hijrah akan bisa terjadi bila seseorang/masyarakat tersebut meninggalkan sesuatu hal dan menuju hal yang lain. Hal yang disebut ini bisa merupakan tempat atau kebiasaan. Contohnya : bila seseorang meninggalkan kebiasaannya merokok, maka ini pun bisa disebut hijrah.

Dalam kisah hijrah Rasulullah salallahu alaihi wasalam, banyak hikmah yang dapat kita petik. Dalam bukunya, Membumikan Al-Qur’an, Quraish Shihab menyimpulkan beberapa hikmah sebagai berikut :

1. Pengorbanan

Ketika Abu Bakar r.a mendengar kabar tentang hijrah, ia sangat gembira dan seketika itu juga ia membeli dua ekor unta dan menyerahkan salah satunya kepada Rasulullah saw sebagai hadiah. Namun, Rasulullah saw menolak. Setelah Abu Bakar r.a bersikeras, maka akhirnya Rasulullah saw setuju untuk membelinya. Padahal, sebelum dan sesudah peristiwa hijrah, Rasulullah saw sering menerima pemberian Abu Bakar r.a.
Pelajaran yang dapat kita petik dari hal ini adalah, bahwa untuk mencapai sesuatu yang besar pastilah sulit, maka dibutuhkan pengorbanan. Dengan membayar unta tersebut, Rasulullah saw mengajarkan bahwa untuk mengabdi kepada Allah subhana wa taala, kita tidak boleh mengabaikan kemampuan apapun, selama kita mempunyai kemampuan untuk melaksanakannya.

2. Makna Hidup

Pada saat hendak berangkat ke Madinah, Rasulullah saw berpesan kepada kemenakannya ‘Ali bin Abi Thalib, untuk mengelabui kaum musyrik dengan berbaring di pembaringannya sambil berselimut. Semoga Allah subhana wa taala merahmatinya, ‘Ali bin Abi Thalib bersedia. Dengan kesediaannya ini, ‘Ali sebenarnya telah berkomitmen untuk menyerahkan jiwa dan raganya untuk membela agama Allah.
Hidup bukan hanya sekedar menghembuskan nafas. Ada orang-orang yang telah terkubur, namun dalam Al-Quran masih dinamai hidup, bahkan mendapat rezeki;
“Dan janganlah sekali-sekali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; sebenarnya mereka itu hidup, di sisi Tuhannya mendapat rezeki,” [Ali Imran (3) : 169]
Sungguh, tiada arti hidup di dunia ini bila ia tidak menyadari kewajiban-kewajibannya yang lebih besar dibandingkan apapun di dunia ini. Setiap orang yang beriman wajib percaya dan menyadari bahwa masih ada yang lebih indah daripada kehidupan di dunia ini.

3. Tawakkal dan Usaha.

Ketika Rasulullah saw dan Abu Bakar r.a bersembunyi di Gua Tsur dan pengejar mereka telah berada di mulut gua tersebut, Rasulullah  saw menenangkan Abu Bakar yang risau sambil berkata : “Jangan kuatir dan jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” Kemudian kita-kira satu setengah tahun setelah terjadi hijrah, dalam peperangan Badar, Rasulullah saw gusar dan Abu Bakar yang menenangkan beliau.
Dua sikap yang berbeda dari Rasulullah saw dan Abu Bakar menyimpan makna yang sangat dalam dalam kehidupan beragama. Dua peristiwa tersebut menuntut dua kejiwaan berbeda dan dicontohkan oleh Rasulullah  saw dengan sangat sempurna. Makna yang dapat kita ambil tersebut adalah, tawakkal dan usaha (taqwa).
Perintah hijrah datang tanpa didahului perintah bersiap-siap melaksanakan hijrah (dalam jangka yang lama sebelum hijrah).  Karena itu perintah tersebut dilaksanakan dengan keyakinan bahwa apapun yang akan terjadi, itu adalah pilihan Allah, sehingga tidak perlu gentar, takut, atau bersedih.
Berbeda dengan peperangan yang sebelumnya Rasulullah saw telah diperintahkan untuk bersiap-siap menghadapi musuh. Kekhawatiran Rasulullah saw pada saat itu adalah keraguan tentang persiapan yang telah dilakukannya selama ini. Jika keraguan itu benar maka beliau khawatir bisa menjerumuskan umat.

Tentulah masih banyak lagi pelajaran dan hikmah dari peristiwa hijrah ini. Sehingga wajarlah Umar bin Khattab menjadikannya sebagai awal kalender Islam.

Selamat Tahun Baru Islam! Semoga kita diberi pertolongan untuk hijrah menjadi pribadi yang lebih baik lagi di mata Allah subhana wa taala. Amin.

Advertisements
  1. #1 by mona on December 3, 2010 - 7:41 pm

    Happy New Year, sayang :*

    • #2 by rialive on December 3, 2010 - 8:24 pm

      thanks kak 😀

  2. #3 by miki on December 3, 2010 - 7:47 am

    kok tumben gak ada bahasa inggrisnya ree?
    jangan dirubah keunikan blog ini 🙂

    • #4 by rialive on December 3, 2010 - 9:47 am

      lagi dibikin, mike..
      kemarin gak sempat buat dua-duanya..
      i’ll let ya know 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: