Thaharah (Bersuci) dan Hubungannya dengan “Iklan Molto Sekali Bilas”

Dari dulu memang penasaran sama iklan Molto, dengan slogan : Cukup Sekali Bilas. Apakah mencuci bisa bersih dengan cara tersebut, dan apakah suci menurut syariat.. Sayang, kan, karena ingin menghemat tenaga, waktu, dan air yang tidak seberapa, pakaian yang kita bawa shalat ternyata tidak suci.. Maka akhirnya Ria bertanya sama seorang saudara, berikut adalah jawaban beliau. Ria tidak punya kontribusi apa-apa dalam menyusun keterangan di bawah ini. Semoga bermanfaat 🙂

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Segala puji hanya bagi Allah subhanahu wa ta’ala, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Rasulullah salallahu ‘alaihi wa salam, keluarganya, para sahabatnya, dan aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi -Nya .

Thaharah secara bahasa artinya bersuci atau menghilangkan kotoran. Adapun secara syar’i yang dimaksud ialah menghilangkan najis atau kotoran dengan air dan debu (tanah) yang suci lagi menyucikan dengan tata cara yang telah ditentukan oleh syari’at. Bab thaharah selalu didahulukan dalam pembahasan-pembahasan fiqih karena thaharah (bersuci) merupakan salah satu syarat syahnya shalat, padahal kita tahu shalat adalah rukun dari rukun Islam setelah dua kalimat syahadat, sebagaimana Hadist diriwayatkan oleh Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau telah bersabda.

Artinya : Kunci shalat adalah bersuci. Shalat diawali dengan membaca takbir dan diakhiri dengan membaca salam (Hadits ini diriwayatkan oleh Lima Periwayat kecuali Nasa’i)

Jadi, syarat (sahnya shalat) tentu harus didahulukan (pembahasannya) daripada yang disyaratkan (yaitu shalat).

Beberapa waktu lalu saya ditanya oleh seorang akhwat tentang “Iklan molto sekali bilas”, apakah itu bisa membersihkan atau tidak, atau mensucikan atau tidak. Sebab kebiasaan sebagian masyarakat yang membilas pakaian hingga tiga kali. Oleh karena itu, supaya tulisan ini bermanfaat bagi yang lain, maka saya jawab pertanyaan si penanya pada note ini. Untuk melengkapkan pembahasan, maka akan saya ulang pembahasan tentang thaharah ini secara menyeluruh.

Yang harus kita ingat disini adalah bahwa suci dan bersih itu berbeda. Suci itu kaitannya adalah dengan syari’at sehingga tatacara supaya suci/mensucikan sudah ditetapkan oleh syar’at. Jadi cara bersuci itu dimana-mana sama. Sedangkan bersih acuannya kesehatan dan tingkat kebersihan seringkali dipengaruhi oleh budaya, tingkat ekonomi, dsb. Bersih menurut orang-orang miskin belum tentu bersih menurut orang kaya, bersih menurut orang Afrika belum tentu bersih menurut orang-orang Eropa, dsb. Walaupun dimungkinkan untuk membuat standar kebersihan akan beberapa hal misalnya air, udara,dsb. secara international. Walaupun demikian kebersihan yang bersifat pribadi, misalnya pakaian, rumah, dsb. sangat relatif dan sangat kuat dipengaruhi oleh hal-hal di atas. Dengan demikian, untuk membersihkan juga tidak baku dan tidak ada yang mengatur, bisa berbeda tergantung kepada metode dan zat pembersih  yang digunakan serta juga kebudayaan.Dari ulasan di atas maka semoga kita bisa membedakan antara suci dan bersih. Bersih belum tentu suci, jika cara kita membersihkan najis tersebut tidak sesuai dengan syari’at. Hal sebaliknya bisa terjadi, bisa jadi kita sudah suci, tapi belum tentu bersih menurut standar kesehatan.

Lalu bagaimana dengan “iklan molto sekali bilas”, apakah itu sudah suci atau tidak ? Apakah itu sudah bersih atau tidak ? Pembahasan ini akan kita bedakan antara thaharah (bersuci) dan kasus molto.

I) Bersuci dari najis.

Membersihkan najis ternyata tidak sulit bila tahu ilmunya. Karenanya kita mesti tahu tata cara membersihkan najis seperti yang dituntunkan syariat. Supaya kita tidak berlebih-lebihan dalam membersihkan najis tersebut dan tidak pula meremehkannya. Asal pembersihan terhadap perkara najis adalah dengan menggunakan air. Allah ta’ala  berfirman:

“Dia menurunkan kepada kalian air dari langit (hujan) agar Dia mensucikan kalian dengannya…”. ( Al-Anfal: 11)”

Dan Kami menurunkan air dari langit sebagai pensuci” . (Al-Furqan: 48)

Pembersihan najis dengan air ini dapat berpindah kepada sarana lain, seperti hadits Abu Said Al Khudri yang menyebutkan sabda Nabi  tentang pembersihan najis pada sandal dengan digosokkan ke tanah atau hadits tentang istijmar (bersuci dengan menggunakan batu). Sebagian ulama berpendapat bahwa tisu juga termasuk ke dalam benda yang bisa dijadikan isttijmar, sebagaimana yang akan dijelaskan.

Menurut Usatdz Sufyan Baswedan (Universitas Islam Madinah) bahwa pada dasarnya, menghilangkan/membersihkan najis tidak harus menggunakan deterjen. Prinsipnya ialah menghilangkan dzat najis tersebut semampunya, walaupun akhirnya masih menyisakan bekas warna. Jadi, kalau memang hasil ini bisa tercapai dengan molto ultra, maka itu baik sekali, karena selain menghilangkan najis/kotoran, juga menghemat air. “Saya belum bisa memberikan jawaban pasti kecuali setelah mencoba, jadi coba saja, lalu kabari saya bagaimana hasilnya. Baru saya (atau Antum) bisa langsung menilai”, tambah beliau.

Dengan demikian, anggapan membilas pakaian harus tiga kali supaya suci dari najis, saya belum menemukan dalilnya. Karena bisa jadi kita akan membilas lebih tiga kali jika najisnya lengket sangat kuat. Intinya kita melakukan apapun semampu kita untuk menghilangkan najiz, termasuk membilas pakaian 1x, 3x bahkan lebih jika perlu. Saya belum menemukan dalil bahwa aturan berwudu’ sama dengan membersihkan najiz.  Mencuci anggota-anggota wudhu dua atau tiga kali, namun kepala cukup diusap satu kali usapan saja, sebagimana Sabda Rasulullah SAW,

“Barangsiapa mencuci lebih (dari tiga kali) maka ia telah berbuat kesalahan dan kezhaliman.” (Riwayat Abu Daud dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Al-Irwa’)

Jadi tidak ada alasan menqyaskan wudhu’ dengan membersihkan najiz pada pakaian. Intinya, jumlah bilasan pakaian tidak menjadi tolak ukur kesucian pakaian dari najiz. Yang terpenting adalah bagaimana kita menghilangkan dzat najis tersebut semampu kita.

Untuk melengkapkan pembahasan ini, mari kita lihat pembersihan beberapa perkara najis yang  ada penjelasannya di dalam hadits Rasulullah, sebab banyak sekali macam najiz dan proses penyujiannya juga berbeda-beda.

1. Kencing

Ketika ada seorang A‘rabi (Arab gunung) kencing di salah satu sudut masjid Rasulullah . Para shahabat yang ada di tempat tersebut berteriak mencerca orang tersebut, namun Rasulullah melarang mereka berbuat demikian dan setelahnya beliau bersabda :

“Tuangkan di atas kencingnya itu satu timba penuh yang berisi air1…”. (HR. Bukhari no. 220, 6128 dan Muslim no. 285)

Imam Nawawi t berkata: “Hadits ini menunjukkan bahwa tanah yang terkena najis dapat disucikan dengan menuangkan air di atasnya dan tidak disyaratkan tanah itu harus digali. Ini merupakan pendapat kami dan jumhur ulama”. (Syarah Muslim, 3/190-191)

Ibnu Daqiqil Ied t menyatakan bahwa hadits ini menunjukkan, tanah dapat disucikan dari najis dengan menuangkan air yang banyak tanpa harus memindahkan tanah yang terkena najis ke tempat lain. (Ihkamul Ahkam, 1/83)

Tanah ini bisa disucikan dengan cara tersebut, sama saja apakah tanah itu lembek atau padat, demikian dikatakan Imam Shan‘ani (Subulus Salam, 1/42). Adapun kalau kencing tersebut mengenai pakaian maka dicuci bagian yang terkena najis sebagaimana mencuci sesuatu yang kotor/najis. Tidak seperti perbuatan orang-orang Yahudi yang menggunting pakaian mereka bila terkena kencing, sebagaimana disebutkan haditsnya dalam Shahih Bukhari (no. 226) dan Shahih Muslim (no. 273).

2. Kotoran Manusia

Rasulullah bersabda :“Apabila salah seorang dari kalian datang ke masjid, hendaklah dia membalikkan dan melihat sandalnya. Apabila ia melihat ada kotoran manusia padanya, hendaknya digosokkan ke tanah kemudian dipakai untuk shalat.” (HR. Imam Ahmad, 3/20. Hadits ini shahih kata Syaikh Muqbil t dalam Al Jami’ush Shahih 1/526)

Dalam hadits di atas Rasulullah  mengajarkan cara membersihkan alas kaki (sandal ataupun sepatu) yang menginjak kotoran yaitu dibersihkan dengan menggosokkannya ke tanah. Ini menunjukkan tanah itu bisa sebagai pensuci dari najis selain air. Berkata Imam Syaukani t :

“Dzahir hadits ini menunjukkan tidak ada perbedaan antara berbagai jenis najis, bahkan setiap yang menempel pada sandal yang dianggap sebagai kotoran maka pensuciannya dengan mengusapkannya ke tanah”. (Nailul Authar, 1/76)

Rasulullah juga mengajarkan cara bersuci dari buang air kecil dan buang air besar selain dengan air, yaitu dengan menggunakan batu yang diistilahkan dengan istijmar, sebagaimana datang haditsnya dari Abu Hurairah  bahwasanya Rasulullah  bersabda:

“Dan siapa yang bersuci dengan menggunakan batu, hendaklah ia mengganjilkannya” . (HR. Bukhari no. 162 dan Muslim no. 278)

Hal ini biasa dilakukan oleh Rasulullah  sebagaimana beliau memerintahkan Abdullah ibnu Mas’ud z untuk mencari batu (HR Bukhari no.156) dan juga perintah beliau kepada Abu Hurairah untuk mengambil batu yang hendak beliau gunakan untuk bersuci (HR Bukhari no. 155). Kedua riwayat ini mengandung perintah sehingga menunjukkan bahwasanya istijmar bisa dilakukan dalam keadaan apa pun walaupun ada air, karena Rasulullah  akan meminta diambilkan air apabila beliau memang ingin bersuci dengan air.

Dikatakan pula oleh Al Hafidz ketika menerangkan bab Istinja’ bil Hijarah (bersuci dari buang air besar dan kecil dengan menggunakan batu) bahwa bab ini merupakan bantahan terhadap orang-orang yang berpandangan bahwa istinja’ hanya khusus menggunakan air. (Fathul Bari 1/321). Hitungan ganjil yang dimaksud dalam hadits ini minimal dengan tiga batu sebagaimana dalam hadits Salman z, di antaranya ia berkata:

“Sungguh Rasulullah  melarang kami untuk istinja (cebok) dengan menggunakan kurang dari tiga batu”. (HR. Muslim no. 262)

Demikian pula pendapat Imam Syafi’i, Imam Ahmad dan ashabul hadits, bahkan mereka mensyaratkan tidak boleh kurang dari tiga batu agar najis itu bersih. Apabila belum tercapai pembersihan itu hanya dengan tiga batu, maka dia boleh menambahnya sampai bersih, dan dalam hal ini disenangi untuk mengganjilkan jumlah batu tersebut. (Fathul Bari 1/323)Dibolehkan pula untuk mengganti ketika tidak ada batu dengan selainnya, kecuali tulang dan kotoran (tahi) kering karena telah datang larangan pemakaian keduanya dari Rasulullah . Ini pendapat jumhur ahlul ilmi. (Syarah Muslim 3/157)

3. Wadiy

Pembersihannya hanya dengan mencuci kemaluan dengan air seperti halnya bersuci dari kencing dan buang air besar.

4. Madzi

Ketika ‘Ali  menyuruh seorang shahabat, Miqdad ibnul Aswad, menanyakan kepada Rasulullah  tentang tata cara membersihkan madzi yang mengenai kemaluan. Beliau menjawab:

“Hendaknya dia mencuci kemaluannya dan berwudhu.” (HR. Bukhari no. 269 dan Muslim no. 303)

Nabi  memerintahkan untuk mencuci kemaluan bila keluar madzi. Yang dimaksud dengan mencuci di sini menurut pendapat Imam Syafi`i dan jumhur ulama adalah mencuci bagian yang yang terkena madzi saja (dari kemaluan dan anggota badan lainnya yang terkena) tidak perlu mencuci seluruh kemaluan (Syarah Muslim, 3/213). Ibnu Hazm berkata:

“Mewajibkan pencucian kemaluan secara keseluruhan adalah pensyariatan yang tidak ada dalil padanya”. (Al Muhalla,1/107)

5. Darah haid yang mengenai pakaian

Asma’ bintu Abi Bakr  menceritakan :

“Seorang wanita bertanya kepada Rasulullah  : “Ya Rasulullah, jika salah seorang dari kami terkena darah haid pada pakaiannya, apa yang harus ia lakukan?’ Maka Rasulullah  bersabda, ‘Apabila darah haid mengenai pakaian salah seorang dari kalian, hendaknya dia mengeriknya lalu membasuhnya, kemudian ia boleh shalat memakai pakaian tersebut.’ ” (HR. Bukhari no. 227, 307 dan Muslim no.291 )

Imam Shan‘ani mengatakan: “Wajib untuk mencuci pakaian yang terkena darah haid dan bersungguh-sungguh untuk menghilangkan bekasnya berdasarkan apa yang disebutkan dalam hadits dengan dikerik memakai jari, dikucek dengan air dan dicuci untuk menghilangkan bekas darah tersebut. Dan dzahir hadits menunjukkan tidak wajibnya melakukan selain hal tersebut. Kalau masih terlihat bekas darah maka tidak wajib menggosoknya dengan menggunakan benda yang keras/kesat karena tidak disebutkan hal demikian dalam hadits Asma’  sementara hadits ini merupakan tempat keterangan dan juga karena datang riwayat pada selain hadits ini dengan lafadz : “Tidak bermasalah bagimu bekas darah tersebut (setelah berusaha menghilangkannya dengan tata cara yang disebutkan)” (Subulus Salam, 1/60)

Disenangi mencuci darah haid yang terkena pada pakaian dengan menggunakan air dan daun bidara2 serta dikerik dengan ranting karena hal ini bisa menghilangkan bekas darah dari pakaian tersebut daripada sekedar dicuci dengan air saja. Demikian dikatakan Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya (1/141) dengan membawakan hadits Ummu Qais bintu Mihshan yang bertanya kepada Rasulullah  tentang darah haid yang mengenai pakaian. Sedangkan hadits Ummu Qais ini dikatakan oleh Ibnul Qaththan: “Sanadnya benar-benar shahih dan saya tidak mengetahui padanya ada cacat”. (Talkhis Habir, 1/52)

6. Kulit bangkai

Bangkai hewan termasuk perkara najis, demikian pula kulitnya. Oleh karena itu bila kulit bangkai itu hendak dimanfaatkan harus disucikan terlebih dahulu dengan cara disamak. Rasulullah  bersabda :

“Apabila kulit telah disamak maka itu merupakan pensuciannya” . (HR. Muslim no. 366)

Yang dimaksud dengan menyamak adalah menghilangkan bau busuk dan lendir (cairan) yang najis dengan mengunakan benda-benda atau obat-obatan tertentu dan selainnya. Kata Ibrahim An Nakha‘i: “Penyamakan adalah segala sesuatu yang mencegah rusaknya kulit.” (Tuhfatul Ahwadzi , 5/327). Berkata Syaikh Abul Qasim sebagaimana dinukil dalam Al Muntaqa Syarah Muwaththa Imam Malik: “Kulit bangkai sebelum disamak itu najis namun setelah disamak menjadi suci dengan kesucian yang khusus”.Dengan penyamakan ini kulit tersebut menjadi suci, luar dan dalamnya, sama saja apakah kulit itu berasal dari hewan yang dimakan dagingnya ataupun tidak. Setelah kulit disamak boleh dimanfaatkan sebagai tempat menyimpan benda-benda yang kering dan yang cair. (Tuhfatul Ahwadzi, 5/327)

7. Air liur anjing pada bejana

Nabi  bersabda:

“Apabila anjing minum dari bejana salah seorang dari kalian hendaklah ia mencuci bejana tadi sebanyak tujuh kali”. (HR. Bukhari no. 172 dan Muslim no. 279)

Dalam riwayat Muslim ada tambahan: “cucian yang pertama dicampur dengan tanah”.

Hadits di atas menunjukkan bejana yang dijilat anjing dicuci dengan air sebanyak tujuh kali dan cucian yang pertama dicampur dengan tanah. Kita mengambil riwayat:“cucian yang pertama dicampur dengan tanah”.

Sementara di sana ada riwayat-riwayat lainnya, karena riwayat ini lebih kuat dari sisi banyaknya, lebih terjaga dari keganjilan dalam periwayatannya dan juga lebih kuat dari sisi makna, demikian kata Al Hafidz Ibnu Hajar. (Fathul Bari , 1/346)

Imam Shan‘ani mengatakan: “Riwayat yang menyebutkan pencucian pertama dengan tanah lebih kuat karena banyak yang meriwayatkannya, juga karena dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim. Yang demikian ini dipakai ketika mentarjih (menguatkan) riwayat-riwayat yang berselisih”. (Subulus Salam, 1/39)

Dan pencucian sebanyak tujuh kali ini hukumnya wajib, demikian pendapat Syafi‘i, Ahmad dan jumhur ulama. (Aunul Ma‘bud, 1/94)

Pembersihan jilatan anjing ini bisa dengan cara menuangkan air ke atas tanah atau menuangkan tanah di atas air atau bisa pula dengan cara mengambil tanah yang telah bercampur dengan air lalu digunakan untuk mencuci bejana tersebut. Adapun sekedar mengusap bekas najis dengan tanah maka tidaklah mencukupi. (Taisirul ‘Allam, 1/35).

Mungkin muncul pertanyaan, apakah tanah bisa digantikan oleh pembersih yang lain seperti sabun/deterjen. Perkara ini diperselisihkan oleh ulama, namun yang kuat adalah tanah tidak bisa digantikan oleh yang lain.Karena apabila telah datang nash yang menunjukkan terhadap makna tertentu dan dimungkinkan makna yang khusus terhadap makna tertentu tersebut maka tidak boleh mengesampingkan ataupun membuang nash tersebut. Demikian dinyatakan oleh Al-Imam Ibnu Daqiqil Ied dalam Ihkamul Ahkam, 1/31.

II) Apakah molto sekali bilas bisa membersihkan pakaian ?

Jawaban yang lebih memuaskan akan hal ini tentulah hanya bisa dijawab oleh orang-orang yang sudah menggunakan molto tersebut dan biar lebih ilmiah bisa dilakukan juga uji Laboratorium. Karena tidaklah bidang saya akan hal ini, maka untuk menjawab hal ini secara ilmiah (tanpa uji Lab), maka saya berdiskusi dengan Bapak Endry Prasetyo PhD (Peneliti di Institut für Umweltbiotechnologie, TU Graz). Beliau ini ahli dibidang biokimia.  Berikut hasil diskusi saya dengan beliau (diringkas/diedit sesuai kebutuhan):

P: Apakah itu memang mungkin (molto sekali bilas), dan apakah itu sudah bersih ?

J:  Itu bahan yang dipakai unilever apaan ya ? Mungkin pak juki tahu, soalnya banyak teknologi untuk menghilangkan atau  mengurangi foam (busa) di detergent, kalo misalnya anti foaming agent yang umum dipakai rasanya itu bukan teknologi baru, di Graz kita juga sering pake, banyak  dijual di SPAR dan lain.-lain. Kalo kebersihannya saya rasa cukup bersih ya,  selama konsentrasi bahan kotor dan deterjentnya ketemu pada titik optimumnya,  akan bersih scientifically he..he, kalau suci saya tidak tahu,  Ustadz lebih tahu batasan suci itu…he..he..Sebenarnya teknologi terbaru untuk mengurangi foam adalah pake lipase dan esterase, sejenis enzyme untuk hidrolisis lemak, kalo itu hampir tidak ada foamnya. Dan bisa hemat air juga

P: Tapi molto itukan bukan deterjen, hanya penghilang busa saja, apakah standar bersih itu busanya ? Coba Mas lihat penjelasan Unilever di Republikaa berikut ini:

“Senior brand manager Molto PT Unilever Indonesia Tbk, Veronica Utami mengatakan kelebihan Molto Ultra Sekali Bilas yaitu mengusung eknologi baru, yaitu bahan penghilang busa yang dapat menghilangkan busa seketika hanya dalam sekali bilas. “Bahan penghilang deterjen yang dapat menghilangkan residu deterjen dari pakaian dan anti redoposisi yangmencegah kotoran menempel kembali ke pakaian,” ungkap Veronica Utami saat peluncuran Molto Ultra Sekali Bilas di Jakarta, Rabu (26/11).”

J:  Ya, seperti yang sudah saya perkirakan tadi, molto itu pake “defoaming”, kalo masalah hilang tidaknya kotoran tergantung dari kekuatan deterjent yang digunakan sebelumnya untuk mencuci dalam mengikat “kotoran”, Jadi kalau yang dilakukan molto itu hanya menghilangkan busa deterjent, pastinya kotorannya masih di situ. tetapi kalo molto tersebut ditambahi juga “agent” penghilang emulsi (dalam hal ini deterjent+kotoran yang terikat) saya rasa bisa bersih kayak dibilas 3x, walaupun hanya dibilas 1x. Jadi seolah-olah sebagai pengganti air (dalam hal ini bertindak sebagai solvent atau pelarut) tetapi dalam kapasitas ikatan hidrofilik yang lebih besar. Bahan itu ada juga yang pake sebagai formulasi untuk pengharum pakaian.

P: Jadi dengan pernyataan pihak Unilever di atas, sepertinya ini hanya menghilangkan residu deterjen, bukan kotoran bukan ? Kalau begitu,  kebersihan tergantung lagi pada kekuatan deterjen yang digunakan ?

J: Saya rasa itu juga menghilangkan kotoran karena kontak pertama deterjent adalah dengan kotoran dan telah berubah menjadi emulsi, walaupun ada sebagaian deterjent yang mungkin tidak berikatan karena berlebih konsentrasinya misalnya. Kalo memang benar bahan yang dipakai molto adalah penghilang emulsi, jadi disamping residual deterjent yang tak berikatan dengan kotoran akan hilang, bahan itu juga mampu menghilangkan deterjen yang telah berikatan dengan kotoran (dalam bentuk emulsi) karena ikatan bebasnya sama yaitu bagian yang hidrofilik (bagian hidrofobik nya berikatan dengan kotoran).

Agama Islam ini sebetulnya sangat mudah, akan tetapi kadang-kadang menjadi sulit karena kekurangan ilmu kita, sehigga kita terjebak oleh penambahan-penambahan yang memberatkan. Sesungguhnya Allah ta’ala menghendaki kemudahan bagi kita, sebagimana Firman-Nya:

Artinya : “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu” [Al-Baqarah : 185]

Demikianlah pembahasan ini semoga ada manfaatnya bagi penanya serta bagi saudara saya yang lain. Jika pada pembahasan ini ada yang bertentangan dengan Islam yang hak, maka pada Allah ta’ala saya mohon ampun. Jika ada pendapat yang lebih kuat dari apa yang saya tulis, maka pendapat saya mengikut dengan pendapat tersebut.

Wallahu’alam bis-showab, wassalamu’alaikum warahmatullahi wabaraktuh.

Yang selalu mengharapkan ilmu dan taufik-Nya

Marzuki (26 Dzulhijjah 1431 H)

 

===============

Sumber tulisan:

1.) Diskusi dengan Ustadz Sufyan Baswedan, Universitas Islam Madinah
2.) Diskusi dengan Dr. Endri Prasetyo, TU Graz
3.) Artikel tentang thaharoh oleh Ustadz Muslim Abu Ishaq Al Atsari di Majalah Asysyari’ah (http://asysyariah.com/)

Advertisements
  1. #1 by Iklan Joglo on December 11, 2010 - 1:25 pm

    Ehm terima kasih jadi nambah ilmu nih tentang thaharoh,sekarang mending pake molto setelah dibilas bersih aja….Thanks banyak mbak infonya bermanfaat sekali..

    • #2 by rialive on December 11, 2010 - 2:20 pm

      Senang bisa menjadi perantara ilmu 🙂
      semoga kita yg belajar dan yang menulisnya dimudahkan, amin..

  2. #3 by mona on December 3, 2010 - 7:37 pm

    wah betul juga ya dek..
    bagus kamu tanya, apalagi buat orang2 yang punya anak kecil, suka pipis dalam celana, main di tempat kotor..

    • #4 by rialive on December 3, 2010 - 8:23 pm

      iya kak..
      bertanya sama orang yg tepat pula, alhamdulillah 🙂

  3. #5 by miki on December 3, 2010 - 3:55 pm

    wah ini sebanarnya masalah sepele ya..
    tp bagus juga kamu tanya ree..
    Good thinking 🙂

    • #6 by rialive on December 3, 2010 - 4:04 pm

      ohohoho, gw bagian nanya aja..
      yg hebat itu yg jawab :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: