Komisi Perlindungan Anak Indonesia, Senjata Anak Durhaka

Beberapa hari ini, KPAI semakin sering saja disebut-sebut media. KPAI pada hakekatnya adalah lembaga yang menampung permasalahan anak-anak Indonesia menghadapi persoalan seperti perdagangan anak, eksploitasi anak, dan kekerasan terhadap anak.

Isu-isu seperti perdagangan anak, eksploitasi anak, memang qualifikasinya relatif jelas. Yang ingin saya angkat sekarang adalah masalah, kekerasan terhadap anak. Apa standarnya? Kapankah tindakan mendidik dan menanamkankan moral pada seorang anak dikategorikan sebagai kekerasan/kriminalitas?

Hal ini perlu diperjelas lagi karena melihat kenyataan banyaknya remaja-remaja bebal dan anak-anak kurang ajar berkeliaran di sekitar kita. Ini ada beberapa contoh yang pernah saya lihat dengan mata kepala saya sendiri.

1. Seorang anak melempari ibunya dengan batu. Dia melakukan hal itu karena ingin punya mobil seperti tetangga-tetangganya. Sang ibu belum bisa memenuhi keinginan anaknya, karena mobil ‘kan mahal. Apa yang ibunya lakukan pada saat itu? Menangis tersedu, karena dia bisa masuk penjara bila memukul anaknya.

2. Seorang anak SMP bergelayutan di pintu oplet. Dia waktu itu memakai tas yang banyak ornamen tali-tali. Seorang ibu yang khawatir, berkata dengan bahasa Minang yang kurang lebih artinya seperti ini : “Nak, duduklah di dalam. Mana tahu ada motor atau mobil memotong dari kiri, tali tas kamu tersangkut, kamu bisa jatuh.” Anak tersebut membantah, membelalak, tidak mengindahkan ibu tersebut. Akhirnya saya muak, saya baca nama yang terjahit di seragamnya dan memanggil namanya dengan suara keras : “Fakhri! Masuk ke dalam! Mau mati kamu?!”. Dia masuk sambil membelalak pada saya. Saya tidak peduli.

3. Saya pergi rapat wali murid ke sekolah adik saya. Menuju ke ruangan rapat, saya melewati beberapa ruang kelas yang sungguh teramat ribut. Murid sibuk di belakang, ibu guru yang suaranya tidak kedengaran sama sekali sibuk menerangkan di depan. Saya bertanya pada adik saya, kenapa gurunya tidak marah, jawabannya : “Mana berani guru main keras sama murid? Bisa dipecat!”

Na’udzubillahi… Itu adalah contoh yang saya lihat di lingkungan saya. Tambah lagi dengan kasus selebritis. Arumi Bachsin, Putri Indonesia, dan anak-anak Ayu Azhari. Kesal sedikit sama orang tua, kabur, minta perlindungan hukum, dan sewa pengacara untuk melawan orang tuanya sendiri (dengan kata lain, membayar orang lain untuk memfasilitasi kedurhakaannya). Ya Rabb, mau jadi apa dunia ini??

Apakah dengan dilarangnya kekerasan terhadap anak berarti tidak boleh menertibkan anak? Bila memang anak tersebut perlu dihardik, atau dicubit untuk patuh, apa tidak boleh? Apakah dosa seorang ayah yang memukul anaknya agar mau shalat? Apakah salah seorang guru menghukum murid yang kurang ajar?

KPAI, apakah mereka dipenuhi pakar psikologi anak, atau hanya pengacara handal dalam bidang hak azazi manusia? Apakah keras demi membentuk generasi yang baik juga termasuk kriminalitas? KPAI, sekarang menjadi senjata anak-anak untuk menjadi bebal dan durhaka. Durhaka kepada orang tua dan guru.

Mudah-mudahan KPAI bisa menepis dugaan itu. Dengan mencari cara agar anak-anak menjadi terdidik, dan sadar akan kewajibannya. Mudah-mudahan KPAI bisa menjadi lembaga yang bekerja sama dengan orang tua untuk membentuk generasi yang membanggakan, bukan menjadi penyuntik keberanian bagi anak-anak untuk melawan orang tua dengan alasan dilindungi hukum.

Tugas besar KPAI sekarang adalah mensosialisasikan batas keras dalam mendidik agar tidak jatuh dalam jurang penganiayaan. Semoga amanah yang mereka pilih dengan sukarela ini mampu mereka emban sebaik-baiknya.  Ingat, mereka memilih untuk aktif di bidang ini, mereka harus sadar bahwa ini adalah amanah yang besar. Demi moral generasi selanjutnya.

Semoga mereka dimudahkan, amin..

Advertisements
  1. #1 by Linda on January 15, 2011 - 1:10 pm

    Maaf, tapi apa Anda sendiri waktu kecil pernah mengalami child abuse. saya rasa anda juga jangan terlalu cepat menghakimi KPAI. Kalau anak jadi nakal itu kan karena kesalahan didik orangtua juga. Saya rasa tidak fair, kita harus bersyukur kalau orangtua kita baik, tapi yakinkah kita lebih baik kalau kita dapat orangtua yang keras sepeti yang dialami anak2 tersebut di cerita Anda?

    @ mona: Maaf sekali tetapi apa tidak lebih baik kalau kalimatnya “mudah2an kakak (dan kita semua kelak) bisa mendidik anak-anak kita dengan baik, sehingga mereka juga bisa menjadi anak yang baik dan tidak durhaka.

    Maaf sekali saya hanya mengingatkan jangan lupa pada kewajiban mendidik anak.
    Apalagi mengenai Ayu Azhari. Anda sendiri gimana kalau dimasukka n penjara oleh ibu Anda? sekali lagi maaf. Saya sendiri mudah2an akan menajdi orangtua 2 tahun lagi, dan saya lebih banyak berharap agar diri saya lah yang bisa mengasuh dan mendidik anak dengan baik.

    Tambahan: banyak anak jadi nakal justru karena kekerasan yang dilakukan orangtuanya, tidak selalu karena orangtua terlalu memanjakan.

    Orangtua dan anak punya hak masing2, yang paling bijak adalah:
    saat kita menjadi anak kita lebih mengingat kewajiban anak
    dan saat kita menjadi orangtua kita lebih mengingat kewajiban orangtua.
    Terima kasih.

    • #2 by rialive on January 15, 2011 - 4:55 pm

      Halo Linda, terima kasih sudah mampir..
      Saya pikir tulisan ini tidak menghakimi KPAI, tp melihat banyaknya KPAI disalahgunakan.
      Kl masalah Ayu Azhari, hmmmm… anaknya maling uang kabarnya mbak…
      entahlah ya, tp begitulah, banyak yg pengen masuk tipi kayaknya..
      ahahahah
      *guyon mbak*

      Betul kata mbak, orang tua juga harus terdidik.
      krn walau bagaimanapun, akhlak anak2 tergantung orang tua..
      🙂

  2. #3 by noni on December 20, 2010 - 11:03 am

    ohohoho..
    gw amg udah berharap lo mmbahas ini Ri..
    :*

  3. #4 by rialive on December 19, 2010 - 9:04 am

    @ kak mona : iya kak.. iba hati melihatnya.. 😥 takut org punya anak jdnya.. ahahah

    @ meme : iya me, sekalian do’a ndak me… 🙂

    tp itu kt Quraish Shihab memang tanda2 akhir zaman, anak jd raja di rumah orang tuanya.. 😥

    • #5 by Linda on January 15, 2011 - 1:14 pm

      Maaf, tidak ada gunanya kalau hanya takut. Kita atasi ketakutan itu dengan belajar menjadi orangtua dan pendidik yg baik dan benar hehehe, sekedar saran.

    • #6 by rialive on January 15, 2011 - 4:57 pm

      heheheh, betul kok kata mbak..
      kl Tuhan mengizinkan,saya mau kok punya anak mbak..
      12 orang.
      1 cewek, untuk dikasi2 pita.
      11 cowok, buat kesebelasan sepakbola.
      seru deh kayaknya 😀

  4. #7 by Me on December 19, 2010 - 8:54 am

    betul k… karena melihat betapa rusaknya anak-anak sekarang, makanya me namakan bayi me Rafif (berakhlak baik)

  5. #8 by mona on December 13, 2010 - 5:25 pm

    Ini bener banget, Ri
    Mudah2an anak-anak kakak gak tumbuh menjadi anak durhaka
    sedih melihat anak2 sekarg.
    mengerikan.

    • #9 by Linda on January 15, 2011 - 1:11 pm

      Maaf sekali, saya lebih setuju kalau kalimatnya “mudah2an kita bisa mendidik anak2 kita agar menjadi anak yang berakhlak baik”. terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: